Ketika Ghorizah Dikelola oleh Maqām Keyakinan
Dalam dunia bisnis komunitas, banyak orang bergerak, tetapi tidak semuanya bertahan. Banyak yang semangat di awal, lalu gugur di tengah jalan. Masalahnya sering kali bukan sistem, bukan produk, bahkan bukan peluang—melainkan maqām keyakinan yang belum kokoh.
Imam Al-Ghazali telah mengajarkan bahwa manusia digerakkan oleh ghorizah: naluri keinginan, keberanian, dan akal. Dalam konteks Juwara Preneur, naluri ini adalah modal awal. Keinginan untuk hidup lebih layak, dorongan untuk berdaya secara finansial, dan keberanian untuk membangun jaringan adalah energi alami seorang preneur.
Syahwat dalam bisnis komunitas bukan untuk dipadamkan, tetapi diarahkan: dari sekadar mengejar hasil menjadi komitmen membangun nilai. Ghadab bukan untuk melawan sesama, tetapi untuk melawan rasa malas, ragu, dan keinginan menyerah. Akal bertugas menjaga agar semua langkah tetap sesuai jalur, etis, dan berjangka panjang.
Juwara Preneur tidak dibangun oleh mereka yang paling cepat, tetapi oleh mereka yang paling stabil maqām keyakinannya. Orang yang yakin tidak mudah panik saat hasil belum terlihat. Ia paham bahwa proses adalah bagian dari desain Tuhan, bukan tanda kegagalan.
Komunitas ini tumbuh bukan karena tekanan target, tetapi karena kesamaan frekuensi keyakinan. Saling menguatkan, saling menduplikasi kebaikan, dan saling menjaga arah. Di sinilah bisnis berubah menjadi jalan keberdayaan, bukan sekadar alat tukar.
Konsep ini menegaskan: kesuksesan dalam Juwara Preneur bukan dimulai dari strategi, melainkan dari maqām keyakinan. Ketika keyakinan kokoh, ghorizah tertata, dan akal jernih, maka hasil hanyalah konsekuensi alamiah.
Karena preneur sejati bukan hanya juara dalam angka, tetapi juara dalam memimpin diri—dan itulah kemenangan yang berumur panjang.
Pak Noor, Surabaya
